1. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan
Yaitu: Terjatuh, tertimpa benda jatuh, tertumbuk atau terkena
benda-benda, terjepit oleh benda, gerakan-gerakan melebihi kemampuan, pengaruh
suhu tinggi , kontak dengan bahan-bahan berbahaya / radiasi.
2. Klasifikasi menurut penyebab
Mesin
Alat angkut dan angkat
Alat angkut dan angkat
Peralatan lain
Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi
Lingkungan kerja
Penyebab-penyebab lain yang belum termasuk golongan-golongan tersebut.
3. Klasifikasi menurut letak kecelakaan / luka ditubuh
Yaitu: Kepala, leher, anggota atas, anggota bawah, banyak tempat,
kelainan tubuh.
Klasifikasi menurut jenis kecelakaan dan penyebab berguna untuk membantu dalam usaha pencegahan kecelakaan. Penggolongan menurut sifat dan letak luka / kelainan tubuh berguna untuk penelaahan tentang kecelakaan lebih lanjut dan terperinci.
Klasifikasi menurut jenis kecelakaan dan penyebab berguna untuk membantu dalam usaha pencegahan kecelakaan. Penggolongan menurut sifat dan letak luka / kelainan tubuh berguna untuk penelaahan tentang kecelakaan lebih lanjut dan terperinci.
1. Perawatan Ringan ( First Aid )
Perawatan ringan merupakan suatu tindakan/ perawatan terhadap luka
kecil berikut observasinya, yang tidak memerlukan perawatan medis (medical
treatment) walaupun pertolongan pertama itu dilakukan oleh dokter atau
paramedis. Perawatan ringan ini juga merupakan perawatan dengan kondisi luka
ringan, bukan tindakan perawatan darurat dengan luka yang serius dan hanya satu
kali perawatan dengan observasi berikutnya.
2. Perawatan Medis ( Medical Treatment )
Perawatan Medis merupakan perawatan dengan tindakan untuk perawatan
luka yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional seperti dokter
ataupun paramedis. Yang dapat dikategorikan perawatan medis bila hanya dapat
dilakukan oleh tenaga medis yang pofesional: terganggunya fungsi tubuh seperti
jantung, hati, penurunan fungsi ginjal dan sebagainya; berakibat rusaknya
struktur fisik dan berakibat komplikasi luka yang memerlukan perawatan medis
lanjutan.
3. Hari Kerja yang Hilang (Lost Work Days)
Hari kerja yang hilang ialah setiap hari kerja dimana sesorang pekerja
tidak dapat mengerjakan seluruh tugas rutinnya karena mengalami kecelakaan
kerja atau sakit akibat pekerjaan yan dideritanya.
Hari kerja hilang ini dapat dibagi menjadi dua macam :
a. Jumlah hari tidak bekerja (days away from work) yaitu semua hari
kerja dimana sesorang pekerja tidak dapat mengerjakan setiap fungsi
pekerjaannya karena kecelakaan kerja atau sakit akibat pekerjaan yang
dideritanya.
b. Jumlah hari kerja dengan aktivitas terbatas (days of restricted
activities), yaitu semua kerja dimana seorang pekerja karena mengalami kecelakaan
kerja atau sakit akibat pekerjaan yang dideritanya, dialihkan sementara ke
pekerjaan lain atau pekerja tetap bekerja pada tempatnya tetapi tidak dapat
mengerjakan secara normal seluruh tugasnya. Untuk kedua kasus diatas, terdapat
pengecualian pada hari saat kecelakaan atau saat terjadinya sakit, hari libur,
cuti, dan hari istirahat.
4. Kematian (Fatality)
4. Kematian (Fatality)
Dalam hal ini, kematian yang terjadi tanpa memandang waktu yang sudah
berlalu antara saat terjadinya kecelakaan kerja aaupun sakit yang disebabkan oleh
pekerjaan yang dideritanya, dan saat si korban meninggal.
C. Sebab-Sebab Kecelakaan
Kerja
ILO (1989) mengemukakan bahwa kecelakaan akibat kerja pada dasarnya
disebabkan oleh tiga faktor yaitu faktor manusia, pekerjaannya dan faktor
lingkungan di tempar kerja.
Faktor manusia
1. Umur
Umur mempunyai pengaruh yang penting terhadap kejadian kecelakaan
akibat kerja. Golongan umur tua mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi untuk
mengalami kecelakaan akibat kerja dibandingkan dengan golongan umur muda karena
umur muda mempunyai reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi (Hunter, 1975).
Namun umur muda pun sering pula mengalami kasus kecelakaan akibat kerja, hal
ini mungkin karena kecerobohan dan sikap suka tergea-gesa (Tresnaningsih,
1991).
Dari hasil penelitian di Amerika Serikat diungkapkan bahwa pekerja muda usia lebih banyak mengalami kecelakaan dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja muda usia biasanya kurang berpengalaman dalam pekerjaanya (ILO, 1989).
Dari hasil penelitian di Amerika Serikat diungkapkan bahwa pekerja muda usia lebih banyak mengalami kecelakaan dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja muda usia biasanya kurang berpengalaman dalam pekerjaanya (ILO, 1989).
Banyak alasan mengapa tenaga kerja golongan umur muda mempunyai
kecenderungan untuk menderita kecelakaan akibat kerja lebih tinggi dibandingkan
dengan golongan umur yang lebih tua. Beberapa faktor yang mempengaruhi
tingginya kejadian kecelakaan akibat kerja pada golongan umur muda antara lain
karena kurang perhatian, kurang disiplin, cenderung menuruti kata hati,
ceroboh, dan tergesa-gesa (Oborno, 1982)
2. Tingkat Pendidikan
Pendidikan sesorang berpengaruh dalam pola pikir sesorang dalam
menghadapi pekerjaan yang dipercayakan kepadanya, selain itu pendidikan juga
akan mempengaruhi tingkat penyerapan terhadap pelatihan yang diberikan dalam
rangka melaksanakan pekerjaan dan keselamatan kerja.
Hubungan tingkat pendidikan dengan lapangan yang tersedia bahwa pekerja dengan itngkat pendidikan rendah, seperti Sekolah Dasar atau bahkan tidak pernah bersekolah akan bekerja di lapangan yang mengandalkan fisik (Efrench, 1975). Hal ini dapat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja karena beban fisik yang berat dapat mengakibatkan kelelahan yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan akibat kerja.
Hubungan tingkat pendidikan dengan lapangan yang tersedia bahwa pekerja dengan itngkat pendidikan rendah, seperti Sekolah Dasar atau bahkan tidak pernah bersekolah akan bekerja di lapangan yang mengandalkan fisik (Efrench, 1975). Hal ini dapat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja karena beban fisik yang berat dapat mengakibatkan kelelahan yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan akibat kerja.
Pendidikan adalah pendidikan formal yang diperoleh disekolah dan ini
sangat berpengaruh terhadap perilaku pekerja. Namun disamping pendidikan
formal, pendidikan non formal seperti penyuluhan dan pelatihan juga dapat
berpengaruh terhadap pekerja dalam pekerjaannya (Achmadi, 1990).
3. Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya
kecelakaan akibat kerja. Berdasarkan berbagai penelitian dengan meningginya
pengalaman dan keterampilan akan disertai dengan penurunan angka kecelakaan
akibat kerja. Kewaspadaan terhadap kecelakaan akibat kerja bertambah baik
sejalan dengan pertambahan usia dan lamanya kerja di tempat kerja yang
bersangkutan ( Suma’mur 1989).
Tenaga kerja baru biasanya belum mengetahui secara mendalam seluk-beluk
pekerjaannya.
Penelitian dengan studi restropektif di Hongkong dengan 383 kasus membuktikan bahwa kecelakaan akibat kerja karena mesin terutama terjadi pada buruh yang mempunyai pengalaman kerja di bawah 1 tahun (Ong, Sg, 1982).
Penelitian dengan studi restropektif di Hongkong dengan 383 kasus membuktikan bahwa kecelakaan akibat kerja karena mesin terutama terjadi pada buruh yang mempunyai pengalaman kerja di bawah 1 tahun (Ong, Sg, 1982).
Faktor Pekerjaan
1. Giliran Kerja ( Shift )
Giliran kerja adalah pembagian kerja dalam waktu dua puluh empat jam (
Andrauler P. 1989). Terdapat dua masalah utama pada pekerja yang bekerja secara
bergiliran, yaitu ketidak mampuan pekerja untuk beradaptasi dengan sistem shift
dan ketidak mampuan pekerja untuk beradaptasi dengan kerja pada malam hari dan
tidur pada siang hari (Andrauler P. 1989).
Pergeseran waktu kerja dari pagi, siang dan malam hari dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kecelakaan akibat kerja (Achmadi, 1980).
Pergeseran waktu kerja dari pagi, siang dan malam hari dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kecelakaan akibat kerja (Achmadi, 1980).
2. Jenis (Unit) Pekerjaan
Jenis pekerjaan mempunyai pengaruh besar terhadap resiko terjadinya
kecelakaan akibat kerja (Suma’mur, 1989). Jumlah dan macam kecelakaan akibat
kerja berbeda-beda di berbagai kesatuan operasi dalam suatu proses.
Faktor Lingkungan
1. Lingkungan Fisik
• Pencahayaan
Pencahayaan merupakan suatu aspek lingkungan fisik yang penting bagi
keselamatan kerja. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pencahayaan yang tepat
dan sesuai dengan pekerjaan akan dapat menghasilkan produksi yang maksimal dan
dapat mengurangi terjadinya kecelakaan akibat kerja ( ILO, 1989 ).
• Kebisingan
Kebisingan ditempat kerja dapat berpengaruh terhadap pekerja karena
kebisingan dapat menimbulkan gangguan perasaan, gangguan komunikasi sehingga
menyebabkan salah pengertian, tidak mendengar isyarat yang diberikan, hal ini
dapat berakibat terjadinya kecelakaan akibat kerja disamping itu kebisingan
juga dapat menyebabkan hilangnya pendengaran sementara atau menetap. Nilai
ambang batas kebisingan adlah 85 dBa untuk 8 jam kerja sehari atau 40 jam kerja
dalam seminggu (Suma’mur, 1990).
2. Lingkungan Kimia
Faktor lingkungan kimia merupakan salah satu faktor lingkungan yang
memungkinkan penyebab kecelakaan kerja. Faktor tersebut dapat berupa bahan baku
suatu produks, hasil suatu produksi dari suatu proses, proses produksi sendiri
ataupun limbah dari suatu produksi.
3. Faktor Lingkungan Biologi
Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari serangga
maupun binatang lain yang ada di tempat kerja. Berbagai macam penyakit dapat
timbul seperti infeksi, allergi, dan sengatan serangga maupun gigitan binatang
berbisa berbagai penyakit serta bisa menyebabkan kematian (Syukri Sahap, 1998).
Dari penyelidikan-penyelidikan, ternyata faktor manusia dalam timbulnya
kecelakaan sangat penting. Selalu ditemui dari hasil penelitian bahwa 80%-85%
kecelakaan disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan manusia. Bahkan ada suatu
pendapat, bahwa akhirnya lagsung/ tidak langsung semua kecelakaan adalah
dikarenakan faktor manusia.


