Metode Dasar
Identifikasi Bahaya K3
1.
Lakukan
pemeriksaan, pengamatan di tempat kerja
Sisi
Pekerja
Pemeriksan seluruh tempat kerja
secara teratur, memperhatikan hal-hal apa yang terjadi akan sangat membantu
memperkirakan hal-hal kekeliruan apa saja yang akan bisa terjadi. Cermati
dengan baik bagaimana cara-cara pekerja melakukan pekerjaannya, bagaimana cara
mereka menggunakan peralatan, mesin dan material lainya. Apakah termasuk
kategori Safe atau Unsafe.
Sisi
Non Pekerja
Pada sisi non pekerja akan banyak
ditemu sumber bahaya. Dengan menemukan sumber-sumber bahaya tertentu akan
membantu kita melakukan pemeriksaan ulang pada perilaku pekerja seperti diatas.
Penemuannya
akan lebih lengkap :
·
Housekeeping
secara umum seperti apa
·
Lingkungan
kerja. Apakah disain lingkungan kerja memungkinkan bagi ruang gerak sehingga
pekerjaa dapat melakukan pekerjaan dengan aman. Sering kali perilaku tak aman
terpaksa dilakukan pekerja karena lingkungan kerjanya tidak mendukung.
Perhatikan masalah: kecukupan luas ruangan kerja; penataan peralatan, material
lainnya (layout); pencahayaan; ventilasi.
·
Peralatan kerja,
perkakas yang digunakan pekerja. Apakah disainnya sesuai dengan kondisi pekerja
(aspek ergonomi). Apakah pemeliharaannya baik?
·
Tentang Perubahan.
Apakah terjadi perubahan di tempat kerja yang membawa perubahan atau
mendatangkan bahaya baru yang dapat berdampak kepada keselamatan dan kesehatan.
Harus pertimbangkan dan perhitungkan sebaiknya setiap kali memasang, membawa
material baru ke tempat kerja, karena ia bisa jadi merupakan bahaya yang baru.
|
Membuat daftar bahaya yang kita
ketahui akan sangat berguna mempermudah.
Namun datar tersebut jangan terlalu
di jadikan pembatas kegiatan investigasi kita.
Identifikasi bahaya k3 yang baik
biasanya kan menambah daftar bahaya yang sudah dipersiapkan sebelum, menjadi
lebih banyak sesuai temuan di lapangan
|
Jangan terbelenggu dengan Ceklis
Identifikasi bahaya k3
|
2.
Kumpulkan
Informasi dari Pekerja
Dalam
terminologi lama, orang kita sering keberatan dengan kata terjemahan bebas dari
kata “Consult your worker”. Keberatannya adalah “masa sih konsul” kepada
pekerja, kita kan ahlinya. Begitulah kira-kira. Pandangan itu keliru, sebab
yang memahami seluk beluk dan hal-hal apa yang terjadi sehari-hari adalah
pekerja yang lebih memahami, karena itu informasi berharga banyak sekali pada
pekerja.
·
Identifikasi
bahaya k3 sebanyak-banyaknya pada pekerja, informasi tentang keselamatan dan
kesehatan kerja yang pernah dialami pekerja selama melakukan pekerjaannya.
Adakah near miss atau incident yang tak terekam atau tak dilaporkan.
·
Identifikasi
bahaya k3 pada mereka, apakah ada kondisi keterpaksaan yang membahayakan dan
berpotensi sebagai sumber bahaya. Misal yang berkaitan dengan: pekerjaannya,
material, perkakas, tata ruangan, dan lingkungan kerja.
3.
Tinjau
informasi lainnya
·
Informasi berharga
tentang hazard dan risiko yang diinvestigasi bisa didapatkan pada beberapa
sumber seperti: regulasi, asosiasi-asosiasi, spesialis tertentu (tidak terbatas
spesialis K3 saja), dan pada beberapa konsultan k3 dan konsultan lainnya.
·
Suplier dan pabrik
pembuat mesin, peralatan yang kita gunakan juga banyak menyimpan informasi
penting bahaya, hal-hal khusus yang harus diperhatikan, manual,
instruksi-instruksi.
·
Sekarang bila sudah
yakin data tentang semua hazard sudah terkumpul dan sudah dilakukan pengecekan
ulang agar lebih valid, maka Identifikasi
Bahaya K3 anda sudah bisa diandalkan untuk digunakan dalam tahap berikutnya,
yaitu “Analisis Risiko K3″.
Yang
penting diingat sekali lagi adalah, data awal tentang hazard harus baik dan
valid, sebab ini akan menentukan kualitas analisi risiko k3 yang berikutnya.
·
Terkadang, kita
ketika melakukan kegiatan ini langsung menemukan kejadian insiden, kecelakaan
kerja. Maka ada baiknya tim ini langsung melakukan “Investigasi Kecelakaan” agar kejadian yang sama tidak terulang.


